Categories: AransemenHikmah

Kentut

Share

Dih, siapa nih yang kentut? Sialan, ini kentut apa tikus busuk?

Saya punya kisah menarik tentang dunia per-kentut-an yang kemungkinan juga pernah kita semua alami. Tentang suaranya, baunya, hingga getarannya. Pada sebuah momen, kami berkendara di dalam sebuah mobil. Kemudian terciumlah bau kentut yang sangat tajam menusuk. Seketika semua penghuni mobil menutup hidungnya dan memaki-maki mengeluarkan sumpah serapahnya.

Bagi orang-orang “bodo amat”, pasti ya tinggal cengar-cengir mengaku bahwa dialah yang kentut. Tapi kalau ketemu makhluk yang super gengsi, pasti dia diam tekun saja. Nah, masa pencarian tersangka kentut ini juga lucu, karena di antara mereka akan saling tuduh. Bahkan yang lebih absurd adalah ketika ada pernyataan, “ah, pasti orang depan, soalnya arahnya dari depan.”

Bagaimana mungkin kentut bisa diketahui arahnya?

Seolah kentut adalah bau berasap yang bisa dilihat dengan kasat mata. Padahal sekali menyengat, saat itulah kentut menjadi aib yang mesti harus disembunyikan. Biasanya sih yang ditahan suaranya lebih busuk baunya daripada yang dikeluarkan secara lepas dengan suara yang serak menggelegar itu. Biasanya lagi mereka yang merasa anggun dan keren melakukan trik menahan suara kentut, sehingga hanya desisan yang baunya menyebar menyeluruh seisi ruangan.

Kejadian berikutnya adalah ketika kita sedang berada di kamar atau di rumah sendirian. Mana ada gengsi mengeluarkan kentut dengan bau busuk itu. Lepas. Entah bersuara atau mendesis, selama kebelet ngentut, ya dikentutin saja. Selain sudah terbiasa dengan bau yang dihasilkan dari sisa pembuangan, situasi dan kondisi juga memungkinkan untuk bebas berkentut ria.

Baca Juga: Kita Hanya Manusia

Pesan?

Menariknya belajar agama adalah ketika kita bisa mengambil sebuah pesan atau hikmah dari setiap kejadian. Bukankah firman itu selalu turun dari segala hal yang kita alami?! Termasuk dalam kasus kentut.

Dalam kasus pertama, semua manusia selalu berusaha menyembunyikan aibnya. Tidak ada yang boleh tahu, bahkan meski harus melakukan sumpah. “Siapa yang tidak mengaku kentut, pantatnya akan membusuk.” Tidak digubrisnya. Ya masak ada jin kentut sampai tidak ada seorang pun mengaku melakukannya. Yang memberi merasa bahagia, yang menerima merasa sengsara. Kentut, diam-diam mematikan.

Pesan berikutnya adalah ketika refleks menutup hidung untuk menghindari bau busuk. Lucunya semua penghuni mobil juga ikut menutup hidungnya. Seolah menjadi teka-teki dan misteri, “siapa pembohong di antara kami?!”

Nah, gerakan nan cepat menutup hidung ini adalah yang sering kita alami, bahwasanya kita sering sekali melihat, mencium, memprasangkai aib atau keburukan orang lain. Semacam ada kebahagian tersendiri kalau sudah membicarakan keburukan orang lain. Kita adalah sumber kebaikan dan kebenaran, jika ada kekurangan yang tidak sesuai dengan nilai kehidupan yang kita anut, maka prasangka dan ghibah menjamur di sekitar kita.

Sedangkan jika kita sedang dalam keadaan sendiri atau situasi memungkinkan untuk tidak dilihat banyak orang, maka dengan bebas kita melakukan maksiat, keburukan, dan membuka semua aib. Dianggapnya ketika manusia tidak melihat, Allah pun tidak melihat. Aib yang disembunyikan di hadapan manusia dan kemudian di umbar di hadapan Tuhan.

Kentut, yang melakukan bagian pantat dan sekitarnya, tapi yang menerima kehinaan wajah dan seluruh harga dirinya. Kentut adalah naluri manusia yang biasa dikeluarkan kapanpun dan dimanapun. Dengan suara yang lantang atau berdering. Menjadi pelajaran bagi kita, bahwa sejatinya manusia begitu mudahnya untuk menilai keburukan dari orang lain, sedangkan keburukan kita ditutup rapat dalam katupan pantat yang hendak mengeluarkan suara kentut.

Ya begitulah, kentut orang lain pantas untuk diberikan cacian, makian, dan sumpah serapah. Sedangkan kentut sendiri adalah sebuah aroma khas yang bisa dinikmati. Bisa mengatur volume, intonasi, tempo, dan jenis suara sesuai selera kita masing-masing. Etapi kentut itu bagaikan cinta lho. Tidak perlu dilihat, cukup dirasakan!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU