Categories: AransemenHikmah

Belajar Bermain Catur

Share

Dalam permaianan catur, kita akan menjumpai sebuah papan dengan 64 petak hitam dan putih. Kemudian ada beberapa nama bidak-bidak catur; seperti raja, ratu, menteri, kuda, benteng, dan pion. Permaianan adu strategi ini dilakukan oleh dua orang untuk mencari pemenang yang ditentukan hingga sekakmat – yakni makan atau membunuh raja lawan. Misalkan sampai akhir permaianan raja tidak terbunuh (tidak bisa jalan), maka permaianan dianggap remis.

Sejarah permainan catur berasal dari India. Diserap dari kata chaturanga (empat sudut). Di India kuno, catur juga dimainkan oleh 4 orang yang kemudian mengalami perubahan dengan dimainkan menjadi 2 orang.

Permainan catur mengajarkan kita banyak hal. Bahwa hidup hanya sekali. Maka demikian kita diharapkan untuk senantiasa berhati-hati dalam melangkah agar tidak terkena musibah atau kematian. Pilihan-pilihan yang diambil dalam menentukan masa depan kita juga dilandasi dengan tujuan menjaga “raja”. Setiap orang mempunyai “raja”-nya masing-masing. Entah harga diri, kesehatan, materi, ketenangan, dan lain sebagainya.

Di sebuah organisasi, pemerintahan, perusahaan, hingga keluarga, kita selalu diajarkan tentang konsep pembagian tugas berdasarkan peran masing-masing. Begitu juga dalam permainan catur yang mempunyai kekurangan dan keterbatasan masing-masing (dalam ruang gerak). Pembagian tugas ini tentu dimaksudkan untuk bertahan hidup dan meraih kemenangan.

Ada juga sebuah pesan bahwa kita harus tetap berhati-hati. Melakukan segala bentuk antisipasi agar tidak salah langkah. Bukan hanya itu, dalam permainannya semua harus siap berkorban menjaga “raja”nya demi mencapai tujuan bersama.

Tiap bidak catur mempunyai kapasitas masing-masing. Dalam menjalankan tugasnya juga berdasarkan lajur lintasan yang sudah ditentukan. Tidak semena-mena. Karena permainan ini juga mengajarkan bahwa setiap manusia mempunyai keterbatasan dalam menentukan langkah dan pilihan, meskipun setiap di antaranya ingin bisa seperti orang lain.

Bagi penggemar permainan catur, satu hal yang pasti bahwa pemain akan dilatih kesabaran, tidak tergesa, dan cermat melihat peluang. Karena langkah terbaik dalam hidup memang dilakukan dengan kesabaran.

Baca Juga: Peran Akal dalam Islam Menurut Harits Al Muhasibi

Pesan dalam Permainan Catur

Pesan yang bisa diambil dari setiap bidak-bidak catur tentu beraneka ragam. Tidak ada yang sempurna di dunia ini – termasuk setiap bidak catur. Sefleksibelnya ruang gerak ratu, dia tidak akan pernah bisa berjalan seperti kuda. Begitupun dengan yang lain, benteng yang jalannya lurus, menteri yang jalannya miring, kuda yang berjalan seperti huruf L, dan raja yang bebas bergerak namun hanya satu petak.

Sedangkan pion, meskipun kecil dan dianggap remeh, dia mengajarkan kepada kita bahwa hidup harus terus berjalan ke depan. Siap berkorban dan dikorbankan. Satu hal yang pasti, suatu saat jika berhasil dia akan menjadi pahlawan dan mempunyai peran setara ratu dengan semangat dan gairah baru. Menjadi pengingat kepada kita bahwa jangan pernah kita meremehkan siapapun yang kita anggap kecil atau lemah.

Raja adalah bagian terpenting dalam catur. Dia yang harus dijaga dan dilindungi oleh siapapun, tak terkecuali ratu. Ketika semua pengorbanan yang dilakukan oleh bidak-bidak lainnya tidak berhasil, maka akan ada masa raja akan terdesak dan terpepet. Kondisi demikian sering dialami oleh setiap manusia. Bagaimana dalam kondisi terdesak kita bisa keluar dari sebuah masalah dan berhasil mempertahankan hidup.

Warna hitam-putih dalam setiap petak papan catur, menandakan bahwa hidup mmemang tentang sebuah pilihan. Putih atau hitam yang kita pilih tidak lantas bisa menjamin kebahagian seseorang. Setiap langkah entah hitam atau putih adalah jebakan atau mungkin sebaliknya. Semua orang diberikan hak untuk memilih, tapi ketentuan (takdir) bukan menjadi kuasa satu sama yang lain.

Setiap pemain mempunyai karakter masing-masing ketika memainkan catur. Mereka yang cermat, berpikir cepat, sabar, dan ada juga yang gegabah dan sembrono. Satu hal yang pasti bahwa catur mengajarkan kita untuk berpikir jangka panjang.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Jika Tuhan adalah maha segalanya, adakah Dia maha bosan. Sehingga tercipta versi paling mutakhir dari bidak catur. Iya, kita.” – Ayudhia Virga


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU