Categories: opiniSimponi

Cintailah Wahabi

Share

Tuhan menciptakan segalanya lantaran cinta. Semenjak kecil manusia juga selalu diajarkan tentang sebuah cinta. Cinta berkembang saat remaja sampai puncaknya menikah dengan orang yang dipilihnya. Kebahagiaan yang selalu didambakan juga atas landasan cinta. Kepada diri sendiri, sesama, Tuhan, dan semesta alam, serta cinta wahabi.

Beragama juga diajarkan makna cinta. Melalui kajian akhlak, fikih, hingga tasawuf. Cinta adalah suatu hal yang selalu melekat pada diri manusia. Namun, cinta tidak serta merta menjadikan sesuatu hal menjadi positif. Kadang cinta juga bisa membunuh seseorang, cinta bisa menyakiti sesama, dan cinta kadang juga bisa membuat seseorang melupakan dirinya. Untuk itu, mencintai selain Tuhan itu yang sedang-sedang saja. Jangan berlebihan. Nanti dikecewakan.

Baca Juga: Kenapa Aku Cinta NU??

Wahabi. Prasangkaku mereka adalah wahabi. Tapi yang aku prasangkai tidak mengaku kalau dirinya wahabi. Berbeda dengan aku. Mereka memprasangkai aku NU, sedangkan aku juga mengaku kalau aku itu NU. Bedanya, NU itu adalah sebuah organisasi, sedangkan wahabi adalah sematan madzab atau aliran karena mengacu pada salah satu tokoh. Jadi mereka ogah disebut wahabi. “Islam aja”, ujarnya.

Namun demikian, saya akan menulis tentang perasaan cinta saya kepada kawan-kawan wahabi. Perlu diingat, kita pasti sepakat bahwa kekuatan Islam itu jika kita bersatu. Tentunya dengan menjalin ukhuwah Islamiyah. Saling tabayyun. Barangkali selama ini ada yang salah dengan prasangka kita.

Mereka (yang saya anggap wahabi) merasa tidak pernah mengkafirkan sesama muslim. Mereka hanya berniat untuk meluruskan faham yang mereka anggap salah. Seperti amalan bidah. Meskipun kalau dikaji lebih mendalam ujung-ujungnya juga akan mengarah kepada kekafiran dari muslim tersebut. Tapi untung mereka yang baru semangatnya berhijrah, tentu tidak akan sedalam itu memprasangkai wahabi yang gemar menyalahkan amaliyah muslim lainnya. Yang mereka tahu bahwa kajian ustaz-ustaz yang kami anggap wahabi adalah soal kebaikan, menyebarkan agama Islam dengan halus, dan serius mengikuti sunah.

Padahal runtutan perselisihan dan perdebatan adalah ketika amaliyah kami (Nahdlatul Ulama) itu sering disalahkan, bahkan sampai dianggap sesat. Mana ada api kalau tidak ada asap?! Misalpun masih tetap ngotot kalau “wahabi” itu tidak suka menyalahkan amaliyah muslim lainnya, silahkan cek di akun-akun hijrah dan ustaz-ustaz sunah.

“Tapi kan itu memang sesat?”

Kalau masih ngotot mempertahankan kebenaran berdsarkan versi masing-masing, tidak akan terwujud cita-cita yang saya jelaskan di atas. Ukuwah Islamiyah. Islam itu mengajarkan bagaimana kita bisa menghargai perbedaan. Misal kalian (yang saya anggap wahabi) mempunyai amaliyah yang menurut kalian itu adalah sunah maupun wajib, ya silahkan lakukan dengan khusuk. Biarkan kami juga melakukan hal yang demikian.

Kalian melarang tahlilan, yasinan, ziarah kubur, selawatan, kenduren, tabaruk, dan lain sebagainya, Ya jangan dilakukan. Simple! Jangan malah mengatakan itu bidah, sesat, kafir jahiliyyah, dan hinaan lainnya.

Maka dari itu, mari kita sama-sama saling mencintai. Silahkan patahkan anggapan kami bahwa wahabi itu bukan madzab yang suka menyalahkan amaliyah orang lain, meskipun kalian menganggap itu benar: shahih! Tidak akan pernah berakhir kalau kita sama-sama kolot mempertahankan kebenaran yang merujuk kitab serta imamnya berbeda satu sama lain.

Untuk kawanku, banggalah kalian dituduh wahabi atau salafi. Jangan malu. Tunjukan pada “NU” yang gemar memancing permusuhan itu bahwa wahabi itu toleran. Wahabi itu suka menghargai pendapat dan tidak suka menyalahkan amaliyah orang lain. Apalagi sampai memvonis kafir sesama muslim. Tunjukan bahwa cinta wahabi kepada persatuan itu lebih besar daripada memancing perselisihan dengan usil mengkoreksi akidah dan amaliyah muslim lainnya.

Silahkan lanjutkan kesunahan yang didapat dari belajar bersama ustaz (yang saya anggap) wahabi. Melebatkan jenggot, cingkrang adalah sunah, berjubah, atau sebagainya. Ijinkan kami mencintai saudara kami wahabi yang juga kami doakan semoga mereka bisa mencintai kami (Nahdlatul Ulama). Mulai lembaran baru, bahwa kita bisa hidup berdampingan. Bebas melakukan pengajian (yang tidak provokatif) tanpa ada yang membubarkan.

Kalau misal merasa ada yang janggal pada amaliyah NU, cukup ditahan dan menjadi kajian internal sambil ngopi. Jangan dishare di media, takutnya nanti memancing perselisihan kembali. Boleh kok wahabi itu ngrumpi tentang yang dianggap menyimpang dari NU. Kan NU juga demikian. Kodrat manusia memang begitu kan, suka membicarakan kejelekan orang lain. Asalkan jangan di-publish ke media. Itu saja!

Bagimana? Bolehkah aku cinta Wahabi?
Bagimana? Sudikah kalian (wahabi) mencintai NU?

Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU