Categories: kolaseWarganet

Burung dalam Sangkar

Share

Seekor burung yang cantik nan indah, terbang meliuk-liuk di udara, mengepakkan sayapnya yang kecil. Melayang bebas melintasi awan. Seperti biasanya setiap pagi ia pergi meninggalkan sarangnya hingga sore hari, untuk mencari makanan untuk anak-anaknya. Begitulah ia, aktifitas kesehariannya seraya berharap agar kelak dapat melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang hingga mencapai usia dewasa. Jika anak-anaknya telah dewasa dan dapat terbang melintasi awan dan dapat mencari makan sendiri yang kelak mereka akan memiliki keluarga sendiri jua.

Hari demi hari ia lewati, terbang melayang ke sana kemari untuk mengais rezeki. Sebab Allah telah pasti memberikan rezeki bagi setiap makhluk yang hidup di bumi hingga hewan melata pun telah ditetapkan atas rezeki yang telah ditentukan-Nya. Demikian juga terhadap seekor burung nan indah ini. Namun suatu ketika ia pergi meninggalkan sarangnya, dengan penuh harap rezeki yang didapatkannya baik untuk mereka anak-anaknya serta cukup tak berkekurangan. Kali ini tak seperti biasanya, seluruh anak-anaknya yang menanti di sarang, menunggu hingga siang hari sang ibu burung belum juga datang memberikan makan, karena biasanya sudah datang dan memberikan makanan untuk mereka. Tetapi kali ini berbeda.

“Mungkin belum dapat makanan, sampai siang ini belum juga tiba.” Begitu fikir anak-anaknya.

“Mungkin sebentar lagi akan datang.” Mereka penuh harap.

Waktu kian larut dan sore menjelang, dan matahari senja-pun memberi khabar waktu telah sore. Anak-anaknya berharap dengan sangat cemasnya, hingga sore menjelang sang ibu burung belum juga datang. Ada apa gerangan kiranya dengan si ibu burung?

Mereka berteriak karena kelaparan, menanti sang ibu yang belum juga terlihat hingga sore ini.

“Sore menjelang, kok Ibu belum juga datang.” Fikir mereka yang mulai was-was.

Ketika itu, sang burung yang pergi meninggalkan sarangnya untuk mencari makan, tebang melayang di atas sebuah pohon. Ia mengitarinya sembari melihat-lihat dan memperhatikan dalam harap semoga ada makanan di pohon itu. Dalam perputarannya ia belum juga dapat melihat ada makanan disitu, pindah lah ia ketempat lain, namun sama saja ia tak mendapatkan apa-apa. Kembali ia mencari tempat lain dan begitu seterusnya, seraya terus berharap aka nada rezeki berupa makanan untuk ia dan anak-anaknya yang menanti di sarangnya. Akhirnya ia hinggap disebuah pohon karena lelah dan letih yang dirasa. Laiknya dengan burung yang lain, ia mengeluarkan lantunan suara khasnya, yang terdengar mengalung dengan sangat indahnya dikuping orang yang mendengarnya. Setiap burung memiliki ke-khasannya masing-masing dari berbagai jenis yang berbeda, baik berupa bentuk dan juga suara. Lantunan indahnya pun terhenti ketika ada yang mengalihkan pandanganya, terlihat olehnya dari jarak yang tidak jauh darinya sebuah tumpukan makanan.

Baca Juga: Aksara Agama

“Akhirnya aku menemukan juga makanan ku cari-cari sedari pagi tadi.” Dalam benaknya.

Tapi sayang seribu sayang, ia tak mengetahui jikalau makanan yang dilihatnya, berada dalam sangkar manusia yang ingin menjebaknya. Ia-nya tak mengerti, dan langsung saja mengepakkan sayapnya dan menuju tempat makanan itu berada yang mulai menggodanya. Ia tak berfikir panjang lagi, karena yang hanya fikirkan hanya satu, yaitu anak-anaknya belum ia beri makan bahkan mungkin sudah kelaparan sedari pagi.

Namun na’as, apalah daya ‘daging pun telah menjadi rujak cingur’. Tak disangka dan tak dinyana, ia terjerat di dalam sangkar itu. Pintu sangkar yang sejak tadi terbuka, kini telah tertutup.

“JEBREETT…” begitu kira-kira bunyinya.

Ia pun bingung bukan kepalang, yang tadinya ia berfikir akan mendapatkan makanan banyak dan membawa serta ke sarangnya. Justru sekarang ia terperangkap di dalam sangkar jebakan ‘betmen’, karena ulah manusia. Terbang ia ke sana kemari, mencoba dan berusaha keluar dari sangkar. Namun usahanya hanyalah sia-sia, kaki kecil mungilnya tak kuasa membuka jeruji bambu yang menjadi bilik sangkar itu, apalagi untuk mematahkannya.

Takut betul ia rasakan, teringat juga akan anak-anaknya yang belum diberi makan.

“Bagaimana caranya aku bisa keluar dari ini dan dapat memberikan makan anak-anak ku.”

Meski dalam jeratan ketakutannya, tetaplah naluri keibuannya muncul di ingatan.

Burung itu pun tetap terus berusaha untuk keluar dari sangkar jebakan itu, namun tetap saja ia tak berhasil. Dan akhirnya ia menyerah dengan keadaan, karena ia betul-betul kelelahan. Sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi, dan dalam kepasrahan yang penuh serta tak bisa memikirkan apapun. Hanya berharap kepada Allah ia tumpukan, lemah terasa ia tak mampu mendobrak pintu sangkar. Ia berpasrah ia menyerah.

Sore menjelang, sang empunya sangkar jebakan pun datang, diperhatikannya sangkar yang dipasang di tiang bambu yang berdiri tegak. Dari bawah ia melihat-lihat.

“Seperti ada yang bergerak-gerak di dalam sangkar?” sang empunya sangkar berkata dalam hati.

Diperhatikannya secara perlahan, ia mundur kebelekang, bergeser kesamping. Dan betul saja sangkar yang dipasangnya sebagai jebakan burung, hari ini telah terdapat seekor burung yang cantik nan anggun, namun terlihat lemah tak berdaya.

“Wahh, akhirnya aku dapat juga.” Ia berucap gembira.

Diturunkan sangkar itu dari atas tiang yang ditancapkannya, dan mulai mengeluarkan burung yang kini telah terkulai lemah. Dipindahkannya ke sangkar yang lain, kemudian akan di pajang di depan rumah si empunya. Ketika si penjebak burung itu sedang mengeluarkan burung yang ditangkapnya, ada seseorang temannya yang melintas di hadapannya.

“Untuk apa kau menangkap burung itu.” Orang yang melintas itu melemparkan tanya.

“Untuk ku pajang di depan rumah, dan kurawat ia.” Sang penjebak burung menjawab pertanyaan.

“Jika burung itu hanya untuk kau pajang dan kau rawat, untuk apa kau tangkap?” Temannya memberikan sentilan Tanya kepadanya.

“Ya, sebagai hiburan, agar setiap hari ada yang kuurus dan kuperhatikan. Indah jika setiap waktu ada suara ciutan burung di telinga”. Ia berdalih dalam kebaikan.

“Lalu apa lagi?” Si teman ingin lebih banyak tahu niat dan tujuan si penangkap burung itu.

“Bila nanti ada yang tertarik dengan burung ini, akan kujual kepadanya, dan di situ aku akan mendapatkan keuntungan rezeki darinya.” Si penjebak burung menjawab dengan tenang dan tanpa merasa ada yang salah dengan caranya.

“Lalu apa lagi?” Si teman terus mengorek-ngoreknya.

“Sudah itu saja.” Jawabnya.

“Bukankah kau tahu! Bahwa burung yang kau tangkap diciptakan telah memiliki kebebasan? Dan akan tetap mempertahankan kebesan itu?” Sang teman memberikan pandangan.

“Iya tahu.” Menjawab tanpa penjelasan.

“Lalu mengapa kau tetap menangkapnya?” Pertanyaan teman mulai ditegaskan.

“Memang kenapa? Apa ada yang salah denganku?” Sang penjebak berbalik Tanya.

“Apakah menurutmu burung yang kau tangkap, memiliki salah denganmu? Atau memiliki salah dengan yang lainnya? Ataukah burung itu ada yang salah dengan yang dikerjakannya? Atau apakah burung itu mengganggumu?” Pertanyaan panjang dilontarkan oleh temannya, membuat si penjebak berfikir keras agar tidak disalahkan.

“Tidak..” hanya itu jawabannya.

“Lalu alasan apa yang membuatmu menangkapnya?”  Temannya mulai bertanya tegas.

“…..” Terdiam ia dalam desakan.

“Perlu kau ketahui juga. Jika itu dirimu, atau ibumu, atau bahkan anakmu. Pasti kau akan berteriak dan melawan kepada orang yang menjebakmu dalam sangkar, dan kau sangat tidak akan suka akan hal itu. Seribu kekuatan yang kau miliki untuk mendobrak sangkar itu agar terbuka, namun kau tidak lah mampu. Apakah kau masih akan menyukai hal itu?” Nasihat yang begitu indah ini oleh temannya. Namun,”

“Sudahlah, tak perlu kau mencampuri urusanku, urus saja urusanmu sendiri.” Ia menyanggah nasihat temannya dengan keras kepala.

“Baik lah, aku akan pergi. Tapi ingatlah, nanti jika kau merasakan apa yang dirasakan oleh burung yang kau tangkap. Janganlah kau menyesal!!” sang teman pergi meninggalkannya.

Baca Juga: Presiden Namines

Suatu hari dalam beberapa bulan setelahnya, ia pergi bersama dengan keluarganya meninggalkan rumah tanpa ada seorang pun yang tinggal di dalamnya. Sang penjebak ini juga meninggalkan burung tangkapannya tanpa ada yang mengurusi, ia pergi dalam kurun waktu yang cukup lama untuk berliburan atau berwisata. Suatu ketika sang burung itu-pun mati karena tidak diberi makan dan tak ter-urus. Sudah berhari-hari lamanya ia belum juga pulang kerumahnya. Ketika ia tiba dirumahnya, didapatinya sang burung itu telah tergeletak penuh belatung yang sedang menggerogotinya. Pada awalnya ia merasa biasa saja, tidak merasakan kesedihan ataupun penyesalan karena telah menelantarkannya hingga sang burung itu membusuk dan tercium bau yang menyengat. Namun tiba-tiba saja ia teringat nasihat temannya.

“Gubrak” Ia tiba-tiba tersungkur jatuh dan ambruk.

“Aduuh, kepalaku sakit” Merasakan sakit kepala hingga tujuh keliling.

Ia melemah tak bisa menggerakkan seluruh bagian tubuhnya,

“Apa benar yang dikatakan temanku” Bertanya kepada dirinya sendiri, sembari terngiang pada kalimat temannya.

“Perlu kau ketahui juga. Jika itu dirimu, atau ibu-mu, atau bahkan anak-mu. Pasti kau akan berteriak dan melawan kepada orang yang menjebakmu dalam sangkar, dan kau sangat tidak akan suka akan hal itu. Seribu kekuatan yang kau miliki untuk mendobrak sangkar itu agar terbuka, namun kau tidak lah mampu. Apakah kau masih akan menyukai hal itu?”

Kalimat itu bak kalimat sakti yang membuat dirinya mengingat terus menerus tak henti-hentinya, dan membuatnya kebingungan yang sangat meresahkan jiwanya. Dan akhirnya terjadi atas apa yang dikatakan temannya. Dia-pun menangis sejadi-jadinya dalam penuh kebingungan yang tak mampu berbuat apa-apa.

Bersambung….

-Ter-inspirasi dengan apa yang dilakukan oleh bung Karno, dengan melepaskan burung dalam sangkar yang ketika itu diberikan oleh seorang rakyat berasal dari Maluku, yang mengaku bahwa burung yang diberikan itu adalah burung ‘Nuri Raja’, setelah melakukan itu Bung Karno berkata kepada tamunya itu:

“Pak, burung itu akan jauh lebih senang bila ia lepas bebas terbang kemana-mana. Biarkanlah ia merdeka, seperti kita pun ingin merdeka selama-lamanya.”

(dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’)


Kholili Ibrohim – Seniman NU Regional Banten