Categories: SimponiWarganet

Berpuasa di Tengah Pandemi

Share

Ramadan adalah bulan yang dirindukan oleh umat muslim, sebab pada bulan ini terdapat banyak keistimewaan dan kemuliaan. Di antaranya adalah turunnya Alquran, adanya malam lailatul qodar, dilipatgandakanya pahala ibadah, dan lain sebagainya. Umat Muslim juga diwajibkan untuk berpuasa penuh selama satu bulan. Hati gembira buat umat muslim tatkala datangnya bulan suci Ramadan ini.  Namun, pada tahun ini saat berpuasa ada yang sedikit berbeda, sebab umat muslim saat ini sedang dilanda musibah adanya pandemi COVID-19. Sebagian masyarakat melakukan ibadah pada bulan Ramadan kali ini seperti salat tarawih, tadarus Alquran, dsb dilakukan di rumah masing-masing. Guna mencegah penyebaran virus ini.

Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa merupakan ibadah yang pengawasanya dilakukan oleh Allah langsung. Pahala untuk orang berpuasa pun diberikan Allah langsung yaitu, berupa Surga-Nya di akhirat kelak. Tujuan berpuasa tidak lain adalah sebagai wujud rasa syukur manusia kepada Allah, serta untuk Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah. Sebab barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah juga dekat kepadanya.

Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Siapapun tidak akan ada yang mengetahui siapa yang sejatinya sedang berpuasa. Walaupun ada orang yang mengaku sedang berpuasa, tapi apakah kita benar-benar tahu kalau orang tersebut sedang berpuasa. Siapa yang bisa mengawasi orang lain dari terbit fajar sampai terbenamnya matarhari. Oleh karena itu, yang bisa mengawasi hanyalah Allah yang Maha Mengetahui.

Berpuasa pandemi saat ini, yang dilakukan oleh umat muslim bisa jadi berbeda kualitasnya antara satu sama lain. Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin memberikan klasifikasi level orang berpuasa menjadi tiga tingkatan.

Pertama, Shaumul Umum

Pada level pertama ini disebut Shaumul umum atau puasanya orang awam. Puasa dalam level ini adalah puasa yang kebanyakan orang melakukanya yaitu, puasa hanya sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat. Level ini dikategorikan sebagai puasa yang biasa-biasa aja.

Baca Juga: Masjid Shutdown, Akal Sehat Jangan di-Lockdown

Kedua, Shaumul Khusus

Pada level kedua ini disebut Shaumul khusus atau puasanya orang-orang khusus. Puasa dalam level ini lebih tinggi dibandingkan dengan level pertama. Puasanya orang level ini berpuasa lebih dari sekedar menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan. Namun, juga berpuasa dari menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan segala anggota badan dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya tidak saja menahan diri dari makan, tapi juga menahan diri dari menggunjing, membully, ghosip, dan memfitnah. Jika pada zaman sekarang, jari-jarinya menahan untuk menyebarkan berita-berita hoax dan menjelek-jelekkan orang lain, terlebih pemerintah. Biasanya puasa pada level ini dilakukan oleh orang-orang saleh.

Ketiga, Shaumul Khususil Khusus

Pada level ketiga ini merupakan level yang tertinggi menurut Imam Ghazali. Puasa dalam level ini dilakukan oleh orang istimewa, puasanya para Nabi, Shiddiqin, dan Muqarrabin. Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tetapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikiran dari masalah duniawi, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah. Apabila terbersit di dalam hati dan pikiranya tentang selain Allah, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan, maka hal ini bisa dianggap membatalkan puasa. Bahkan apabila didalam hati terdapat keraguan, meski sedikit saja atas kekuasaan Allah, maka hal ini dapat mengurangi nilai puasa.

Imam Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa menjadi tiga level ini, tidak lain adalah bertujuan untuk memotivasi kita agar puasa yang setiap tahun kita laksanakan menaiki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya. Dari tahun ke tahun agar menaiki level, tidak hanya berpuasa pada level pertama saja, tetapi mampu berpuasa pada level kedua bahkan level ketiga.

Jika pada saat pandemi COVID -19 ini. Mungkin berpuasa kita bisa ditambah dengan menahan diri untuk menghindari kerumunan, menahan diri untuk tidak keluar rumah, menahan diri untuk tidak mudik, serta menahan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan tertular atau menulari virus sesuai anjuran dan peraturan yang telah dikeluarkan pemerintah maupun World Health Organization (WHO). Jika hal tersebut bisa dilakukan dengan baik oleh umat muslim, maka bisa bernilai ibadah yang mendapatkan pahala yang berlipatganda.

Adapun pahala bagi orang berpuasa, yang menjalaninya dengan penuh keimanan, menyakini dalam hatinya akan fardhunya puasa dan berharap pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Selain itu, Allah juga akan menjamin surga bagi orang-orang yang menjalankan dengan penuh keimanan dan penuh keikhlasan. Oleh karenanya, mari menjalani berpuasa dengan penuh keimanan dan penuh keikhlasan, agar apa yang kita lakukan mendapatkan pahala yang berlipatganda.

Apapun kebaikan yang dilakukan saat berpuasa, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya. Sering kita mendengar kebaikan-kebaikan orang berpuasa semuanya akan dinilai ibadah, bahkan tidurnya orang berpuasa dinilai sebagai ibadah. Apalagi saat berpuasa pandemi seperti ini bisa digunakan untuk melakukan kebaikan-kebaikan lain, pasti semuanya akan dinilai ibadah dan dilipatgandakan pahalanya.


Muhammad Alvin Jauhari – Ketua MATAN Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya