Bermain Drama

Beberapa aktor dan aktris sedang melakukan olah-vocal, olah-rasa, dan olah-jiwa. Latihan yang selalu diulang untuk sebuah pementasan drama sekitar 2 jam di atas panggung. Duduk seorang sutradara yang mengamati dengan seksama. Sore itu, Namines mencoba mendramakan hidupnya.

Tiba saatnya fase blocking, dimana pemain pertunjukan memerankan tokoh sesuai karakter yang ada dalam naskah – tentunya setelah mendapatkan perintah dan petunjuk dari sutradara. Dibuka dengan teriakan seorang wanita sebagai wujud kekerasan karena kedigdayaan seorang lelaki kepada pasangannya. Selanjutnya mereka memainkan sesuai alur yang sangat menarik dari babak ke babak.

Ada tokoh protagonis yang mempunyai sifat picik, dan penuh amarah. Ada juga antagonis sebagai lawan protagonis untuk menciptakan konflik. Beberapa di antaranya adalah tokoh figuran yang menambah semarak pertunjukan agar alur tetap berjalan menarik dan penuh pesan kepada penonton.

“Jadi…..”

Dalam sebuah drama, tidak ada tokoh baik ataupun tokoh buruk. Protagonis adalah sebutan tokoh utama, sedangkan lawan mainnya adalah tokoh antagonis. Demikianlah kehidupan manusia. Semua orang merasa dirinya menjadi tokoh protagonis. Ditunjang dengan perasaan bahwa dirinya adalah orang baik. Sehingga jika orang tersebut membenci atau memusuhi lawannya, berarti ia menganggap yang lainnya adalah tokoh antagonis yang jahat.

Sedangkan tokoh yang dikira jahat, tentu akan mempunyai persepsi sendiri, bahwa dirinya juga menjadi tokoh protagonis. Tokoh-tokoh ini yang sering mengabaikan tokoh figuran di sekelilingnya yang sebenarnya mereka merupakan tokoh utama juga pada cerita masing-masing.

“Bahkan saya sering menjadi tokoh figuran dalam sebuah kisah drama banyak manusia yang pernah saya temui”, Namines mulai merenungi.

Baca Juga: Lupa Menjadi Bebek

Kalau dalam sejarah drama, dahulu kala ada istilah Sandiwara sebagai cikal bakal pertunjukan di Indonesia. Sandi yang berarti teka-teki, wara atau warah adalah sebuah pesan, ajaran, atau petunjuk. Sehingga sandiwara adalah pertunjukan yang penuh dengan teka-teki yang diharapkan penonton bisa mengilhami pesan yang disajikan.

Setiap hari, manusia selalu melihat sebuah drama. Karena memang naskah Sang Maha tidak akan pernah selesai sampai semua tokohnya hilang dari “panggung sandiwara”. Ribuan pesan juga tercipta dari berbagai kejadian. Andaikan saja setiap orang peka kepada orang lainnya, memerankan setiap apa yang dilihatnya. Pastilah di antara satu sama lain akan bisa lebih menghargai. Karena setiap tokoh mempunyai konsep atau nilai kebaikan masing-masing. Semua merasa dirinya baik.

“Pada dasarnya semua orang itu baik, menjadi jahat karena subjektivitas orang yang menilainya”

“Kenapa ada istilah jahat?”

“Itu karena ketidakcocokan akan sebuah nilai kebaikan antara tokoh satu dengan yang lain. Serigala meyakini semua daging itu enak dan menyehatkan, belum tentu bagi kambing dan kerbau.”

Kebanyakan dari kita sering lupa bahwa kita sedang bermain drama. Drama yang hanya 2 jam (mampi ngombe). Semua kebencian dan kejahatan yang dilakukan orang lain kepada kita adalah sebuah keniscayaan. Memang semua digerakan untuk menciptakan konflik dalam sebuah drama kehidupan. Tinggal bagaimana kita bisa mengontrol setiap adegan yang disajikan.

Ketika semua menyadari bahwa dirinya hanyalah sebuah artis yang sendiko dawuh sama Sutradara, maka keburukan yang kita anggap hanyalah sebuah permainan untuk menguji kesabaran kita. Baik dalam wujud fitnah, cacian, hinaan, prasangka buruk, perdebatan, dan lain sebagainya. Semua sudah diatur.

“Apakah nanti akan berakhir dengan bahagia?”

“Entahlah….”, Naskahnya memang sudah tertulis sejak lama. Namun manusia belum bisa melihatnya. Drama kehidupan hanya menjadi improvisasi tiap tokoh untuk bermain sempurna. Karena apresiasi penonton dan sutradara akan berbeda antara satu dengan yang lain.

Tuntutan manusia sebagai artis hanya menjaga keseimbangan permainan. Tidak merusak karakter tokoh, tidak merusak dialektika antar pemain, tidak merusak setting panggung, dan mencoba memotong alur pertunjukan. Lakukan improvisasi yang menurut kita baik. Karena semua mempunyai cita-cita dan impian menjadi baik. Tinggal bagaimana kita bisa memahami konsep kebaikan satu sama yang lain. Sehingga tidak ada kekacauan persepsi tentang sebuah kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Logika manusia akan selalu membimbing tentang sebuah kebenaran, namun seringkali dipatahkan oleh sebuah kenyataan. Semua tentang kehendak Sutradara. Ketika semua sudah diciptakan, manusia tinggal mengolah dan berkreaktivitas sesuai pemahaman budaya masing-masing. Tidak perlu menjadi aktor atau aktris lainnya. Cukup menjadi tokoh dan karakter yang sudah dipilihkan oleh Sutradara. Karena keorisinalitasan seorang aktor akan mendapat apresiasi lebih.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!