Categories: AransemenKajian

Berburu Lailatul Qadar

Share

Berburu Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Makhluk yang bernama manusia itu berbondong “semedi” di Masjid, tak kendat membaca kitab suci, sembahyang sampai mereka merasa bosan. Mempercantik diri dan mempersiapkan sematang mungkin agar pantas manjadi ahli Lailatul Qadar.

Begitu dahsyatnya Lailatul Qadar yang dikiaskan lebih mulia dari seribu bulan. Mengingatkan kembali tentang kisah seorang Bani israil yang berjuang di jalan Allah menggunakan senjatanya selama 1000 bulan terus-menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan surat Al Qadr untuk memuliakannya sebagai satu malam Lailatul Qadar lebih baik dari perjuangan Bani Israil selama seribu bulan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi.

Diksi bulan yang digunakan tentu bisa bermakna ganda. Apakah bulan yang dimaksud adalah benda antariksa sebagai simbol kedamaian dan cinta kasih, atau bulan sebagai periode waktu tertentu. Namun bukan hal yang patut dipusingkan bagi manusia pendamba Lailatul Qadar yang tepat jatuhnya tidak ada yang mengetahui.

Ciri Lailatul Qadar

Malaikat Jibril beserta rombongan berduyung turun ke bumi. Suasana malam menjadi terang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung, tidak hujan dan tidak berangin, serta tidak ada bintang berjalan. Pada pagi hari matahari bersinar begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. Sepuluh hari terakhir bulan itu menjadi pujaan setiap muslim. Pengharapan atas pencapaian ketakwaan kepada Allah Swt.

Menurut Imam al Ghazali cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan atau malam pertama bulan Ramadan:

Jika hari pertama jatuh pada malam Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 29 Ramadan,

Jika malam pertama jatuh pada Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadan

Jika malam pertama jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 25 Ramadan.

Jika malam pertama jatuh pada hari malam Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23 Ramadan

Jika malam pertama jatuh pada Selasa dan Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27 Ramadan.

Selain Nuzulul Quran yang ditetapkan tanggal 17 Ramadan, malam Lailatul Qadar juga diyakini beberapa ulama sebagai malam diturunkannya Alquran. Para mufasir memberikan tanda di setiap malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Setiap muslim yang berhasil menjumpainya akan merasakan ibadah yang khusyuk. Jiwa menjadi tenang dan wajah berseri.

Baca Juga: Menjadi Saleh di Bulan Ramadhan

Fenomena Manusia Kekinian

Sempat sinis dengan beberapa muslim yang menjadikan malam Lailatul Qadar sebagai tujuan utamanya. Sehingga dianggapnya malam lain di bulan Ramadan hanya sebatas pelengkap kemuliaan. Banyak di antaranya begitu malas pergi ke masjid, malas membaca Alquran, bahkan rela membatalkan puasa. Sedangkan saat momen terakhir bulan Ramadan dengan janji lebih mulia dari seribu bulan, mereka mulai bergairah kembali dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin.

Lebih memilukannya lagi adalah mereka yang acuh tak acuh pada janji malam Lailatul Qadar. Berkeliaran sepanjang jalan, bercanda ria dengan alumni selepas buka bersama, tidur nyenyak agar tidak mengantuk saat bekerja, hingga asik bermain gadget (game atau media sosial). Dianggapnya malam itu sebagai janji fiksi sehingga tidak layak untuk ikut berburu Lailatul Qadar. Selebihnya menganggap diri sudah mempunyai amalan yang dirasa cukup untuk menghantarkannya selamat dari siksa kubur dan singgah di surga.

Padahal berburu Lailatul Qadar adalah penghargaan tertinggi bagi muslim yang sudah mengalahkan hawa nafsunya. Setelah di-gembleng untuk tidak makan, minum, dan mengendalikan syahwat. Bahkan lebih utamanya mampu mengendapkan ego untuk selalu bersikap baik kepada siapapun.

Bukan berarti juga bahwa dengan sikap muslim lainnya yang cenderung tidak menghiraukan malam Lailatul Qadar lantas merasa lebih baik. Karena sejatinya, Lailatul Qadar adalah peristiwa dimana manusia bisa lebih mawas diri. Maka dari itu dianjurkan untuk membaca doa:

اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عني

Artinya:

Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.

Meskipun kita tidak tahu kapan pastinya malam tersebut, tapi berburu Lailatul Qadar bisa dijadikan ikhtiar manusia untuk menggapai ampunan Allah Swt. Bagi kita yang berhasil memburunya, maka dia akan menyantap kenikmatan hasil buruan selama seribu bulan berturut-turut. Semoga kita menjadi manusia yang beruntung mendapatkan kasih Lailatul Qadar, meskipun hanya cipratan-nya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU