Categories: AransemenHikmah

Belajar Zuhud dari T

Share

Kehidupan memang selalu menarik untuk dipelajari. Tak perlu mengetahui ilmu yang begitu muluk untuk bisa mempelajari kehidupan. Ilmu memang perlu, namun niatan dan tekad yang kuat untuk mempelajarinya juga sebuah hal yang sangat penting. Terkadang orang beralasan belum mencukupi ilmunya untuk mengerti kehidupan, padahal kehidupan tak melulu tentang sesuatu hal yang kompleks. Kita bisa belajar kehidupan dari barang-barang sederhana di dekat kita. Pada saat ini akan saya paparkan sedikit ilmu yang saya peroleh dari hal yang bisa dibilang sangat dekat dengan saya bahkan setiap hari selalu saya gunakan. Barang tersebut adalah kontak terminal atau orang biasa menyebutnya T. Ya, belajar zuhud dari T.

Kebanyakan orang merasa bahwa untuk menjadi orang yang bermanfaat membutuhkan banyak pengorbanan termasuk mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan maupun kemanfaatan orang lain. Hal ini sama dengan analogi lilin. Ia rela terbakar habis demi memberikan penerangan untuk lingkungan sekitarnya. Memang sekilas hal tersebut terlihat begitu heroik dan sangat luar biasa. Namun, pernahkah kita juga memikirkan hak-hak diri kita sendiri?! Bukankah sama saja dengan menyakiti diri sendiri?! Bagaimana jika di akhirat nanti kita dituntut oleh tubuh kita sendiri karena sudah menyia-nyiakannya dan tidak memberi haknya?! Hak istirahat, hak makan dan minum teratur, dan hak lain yang menjadi dasar kebutuhan hidup manusia.

Salah satu yang bisa kita contoh adalah T ini. Ia mengajarkan makna yang sangat besar akan arti belajar zuhud. Pertama, ia memberikan hak kepada dirinya sendiri yakni masuk ke lubang kontak yang sudah ada. Namun, ketika kebutuhan akan listriknya sudah terpenuhi. Ia tak lantas sombong dan lupa untuk berbagi. Sebaliknya, ia justru memberikan tempat bagi orang lain bahkan 3 kali lipat lebih banyak dari yang ia dapatkan.

Sikap Zuhud

Apakah pernah mendengar cerita seorang kiai yang mengajarkan santrinya untuk bersikap zuhud? Beliau memberi perintah kepada santrinya untuk mengisi kulah di kamar mandi sampai penuh. Setelah beberapa waktu dan kulah sudah terisi, sang kiai menyuruh santrinya untuk mandi.

“Bagaimana perasaanmu setelah mandi?” Tanya kiai kepada sang santri.

“Alhamdulillah lebih segar yai,” Jawab santri.

“Apakah kamu habiskan semua air kulah tadi? Atau hanya kamu gunakan secukupnya?” Lanjut sang kiai.

“Tidak yai, hanya saya gunakan secukupnya saja.”

Baca Juga: Goblok Lebih Maksiat daripada Riba

Ketahuilah bahwasanya zuhud itu juga seperti itu. Engkau boleh mencari harta dunia sebanyak-banyaknya seperti kau mengisi kulah tadi hingga penuh. Namun ingat, gunakanlah harta itu secukupnya saja selayak kamu mandi dan air itu tidak kamu habiskan. Biarkan orang lain ikut menikmati jerih payahmu. Mudahkanlah mereka, berbagilah nikmat dengan mereka semua.

Memang dewasa ini banyak sekali orang yang sibuk mencari harta dunia namun lupa untuk berbagi kepada sesama. Ia seakan lupa bahwa dalam hartanya juga terdapat harta kaum fakir dan miskin. Mereka menganggap harta itu semua adalah jerih payah usahanya dan seakan lupa atau bahkan celakanya sengaja lupa bahwa semua itu adalah pemberian Tuhan.

“Dulu saat aku miskin, tidak ada yang membantuku, sekarang ketika aku kaya aku harus berbagi kepada orang miskin? Tak akan pernah sudi aku lakukan hal itu, jika mereka ingin kaya usaha harus lebih keras lagi, jangan hanya mengharap bantuan orang lain.” Gumam para sobat kaya yang seolah merasa berkuasa. Nauzubillah semoga kita semua terhindar dari pemikiran semacam ini.

Pesan Kehidupan

Mungkin sebenarnya bukan karena kita tidak tahu, tapi kadang kita sendiri yang tak mau tahu. Membaca adalah firman pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang kadang juga ditafisiri selain membaca Alquran juga adalah membaca ayat-ayat Tuhan yang jelas terpampang nyata di depan kita. Membaca alam, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan mengambil pelajaran dari hal tersebut. Bahkan dari sekedar terminal kontak kita belajar tentang sebuah materi kehidupan yang jarang orang mau membaca dan mengamalkannya. Apakah serakah dan tamak sudah menggerogoti hati kita sehingga pelajaran ini tak sanggup kita baca?! Sekarang kita sudah tahu, sudah belajar untuk membaca. Pertanyaannya adalah apakah kita bisa istikamah dalam membaca tanda dan mengamalkannya? termasuk belajar zuhud dari T?


Yogi Tri Sumarno – Senitabligh Seniman NU

Tags: hikmahzuhud