Categories: opiniSimponi

Dasar Banser!

Share

Pagi itu, tiba-tiba banyak chat masuk. “Apa korelasi Banser sama tuntutan warga Papua?”. Buka medsos isinya hastag bubarkan banser. Isu beberapa bulan yang lalu digembar-gemborkan oleh salah satu kelompok atau aliran. Katanya membubarkan pengajian, katanya anti kalimat tauhid, katanya suka maksiat, katanya dan katanya.

Baca berita dari berbagai sumber saat itu, ya pasti langsung shock. Semacam bomerang, teriak NKRI harga mati, di sisi lain harus rela dibubarkan karena tuntutan persatuan Indonesia dari masyarakat Papua. Semakin penasaran, saya kepo para steakholder-nya NU. Santai aja, sambil ngopi -katanya. Ebuset. Padahal twitter sudah tranding.

Semakin penasaran, saya kepo biografi dari Yorrys Raweyai sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua yang namanya terpampang dalam berbagai link berita dan surat pernyataan 7 tuntutan warga Papua. “Tidak ada yang aneh”, pikirku. Sampai siang, belum ketemu artikel tanggapan NU atau Ansor perihal tuntutan pembubaran banser. Para penggoreng isu semakin loncat-loncat kegirangan, caci maki dan hinaan tiada henti, sindiran berbentuk satire dan sarkas. Nahdliyin karbitan seperti saya, ya pasti semakin bimbang dengan isu tersebut. “Jangan-jangan memang banser yang selama ini menyemababkan perpecahan di tubuh NKRI”

Digenjot terus seperti itu kok tidak membuat lemah mental para nahdliyin samar. Akhirnya beberapa mulai ragu dan meninggalkan NU. Isunya itu lho, difitnah, dicaci, dihina, dituduh liberal, kafir, sesat, dan lain sebagainya. Apalagi banyak mahasiswa yang “seharusnya” bijak, juga turut memanas-manasi situasi politik keagamaan. Agent of change – agen perubahan untuk menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat.

Kok difitnah? Kan itu benar tuntutan warga Papua?

Sorenya, berita tanggapan media-media NU mulai memenuhi media sosial. Sebatas opini karena belum ada data valid atas pembelaan yang dilemparkan. Berikutnya menyusul artikel dan sebuah chat dari Rais Syuriah NU Kabupaten Sorong. Kebetulan beliau ikut pertemuan dalam pembahasan 7 tuntutan warga Papua tersebut. Dan….. tidak ada poin pembubaran banser dari NKRI. Ya, masak iya – orang NU menyepakati adanya pembubaran banser.

Adapun dari pihak MUI Papua Barat juga terheran ada poin pembubaran banser. Diketahui memang ada beberapa pengunjuk rasa yang mengusulkan demikian, tapi belum diketahui alasan dibalik tuntutan itu. Apalagi melihat track record ormas di Papua. Demikian juga tidak ada pemberitaan kalau ada ormas banser yang ikut mengepung dan menimbulkan kericuhan kemarin di asrama Papua.

Baca Juga: #BubarkanBanser

Pagi ini, saya kembali mendapat beberapa link artikel dari beberapa sumber terpercaya. Bahwa Yorrys Raweyai yang dicatut namanya dalam surat pernyataan tuntutan warga Papua malah tidak mengetahui ada poin pembubaran banser. Kemudian menanyakan siapa yang menyebarkan isu sehingga heboh di media sosial.

Lhadalah…..

Akhirnya pertanyaan awal tentang korelasi banser sama tuntutan warga Papua ya hanya untuk memeriahkan media sosial saja. Aneh juga ketika warga Papua begitu mengidolai sosok Gus Dur sebagai presiden yang paling memanusiakan warga Papua, Banser yang menjaga asrama paska keributan di Surabaya, Banser yang hadir ditengah-tengah masyarakat Papua untuk menjaga keberagaman. Kok disuruh bubarkan banser?

Semoga ke depan nahdliyin tidak gampang makan isu yang gampang menyudutkan banser atau NU. Nikmati aja dramanya, sambil ngopi. Nanti juga akan hilang sendiri segala bentuk fitnahan. Padahal saya meyakini yang menyebarkan dan memviralkan itu kebanyakan orang muslim lho. Monggo ditanyakan lagi jauh di dalam lubuk hati, masih tetap fanatik kepada yang memfitnah atau yang difitnah?

Sayangnya penyesalan selalu datang terlambat. Apalagi karakter manusia jaman sekarang yang tak sudi menjilat ludah sendiri. Setelah ramai menyebarkan isu dan diiringi cacian dan hujatan kepada banser, mereka menghilang dan berlalu sejak ada pernyataan beberbagai sumber tentang pernyataan Yorrys Raweyai.

Padahal misalkan itu benar pernyataan warga Papua, sudah geger bangsa Indonesia. Seolah menjadi simalakama bagi Presiden dan pemerintahan saat ini. Perlu analisa yang lebih panjang, bahwa sebenarnya kami baik-baik saja dengan warga Papua. Semua masyarakat sebenarnya tenang-tenang saja. Menjadi ramai karena ada “pecundang” yang lihai memainkan isu untuk mengeruhkan suasana di masyarakat. Meningkatkan pendapatan para buzzer!

Silahkan nikmati segala propaganda untuk menjatuhkan NU dan banser. Kami masih menunggu dan menanti lagi drama yang ingin kalian mainkan sambil ngopi di cakruk samping rumah. Bubarkan banser? Monggo….


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: Bansernkri