Categories: opiniSimponi

Iseng Bahas Khilafah

Share

Bahas khilafah mulai ramai kembali. Banser mengepung dan berorasi di kantor Gubernur Jakarta untuk melarang Felix Siauw berdakwah di masjid balai kota. Narasi semakin menarik, ditambah bumbu-bumbu kesan NU (disimbolkan oleh banser) adalah ormas yang anti-Islam. Hobi membubarkan pengajian dan setia menjaga gereja. Perang argumen di media sosial juga sangat menarik disimak sambil ngopi di depan kos.

Nikmatnya penulis adalah mereka yang bebas mengeluarkan uneg-uneg agar bisa dibaca oleh khalayak umum. Meskipun tulisan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kasus atau masalah yang terjadi. Bertebaran opini untuk senantiasa mendukung tokoh atau ormas. Sesaat kedamaian sesama muslim mulai menampakkan batang hidungnya (setelah pilihan presiden), isu lain mulai mengembang. Kami yang merindukan toleransi dibuat putus asa untuk melihat kedamaian beragama di Indonesia.

Saling lempar julukan intoleran, radikal, dan anarkis. NU yang menjujung toleransi malah menjadi sasaran intoleransi. Banser manjadi sasarannya. Semua media sosial memviralkan tentang “radikalnya” banser terhadap sesama muslim. Lagi-lagi NU mendapat hantaman.

Sedangkan berdasarkan argumentasi pendukung demo banser di balai kota mengungkapkan bahwa HTI tidak boleh lagi melakukan kegiatan dakwah di Indonesia, apalagi di tempat strategis: Masjid Balai Kota Jakarta. Meskipun korelasinya terkesan memaksakan. Mengingat ormas HTI sudah dibubarkan, sedangkan yang diundang adalah salah satu pentolan eks-HTI, Felix Siauw.

Mustahil mencintai Allah, tapi membenci sesama
Muhammad Ainun Najib

Baca Juga: Dilema Taat dan Tsiqah pada Harakah Islamiyah

Isu Khilafah Kembali Gencar

Munculnya kembali tokoh-tokoh eks-HTI yang mewarnai perdebatan di media sosial. Dampak dari perseteruan politik identitas selama pilpres begitu menggairahkan bagi salah satu partai muslim. Selain itu juga berdampak kepada kelompok-kelompok yang mempunyai basis identitas muslim. Sehingga perdebatan antar tokoh muslim tidak lagi menjadi relevan. Asal ada pentolan tokoh muslim mendukung paslon 01, maka apapun argumen yang dilakukan tokoh muslim paslon 02 dianggap benar. Begitu juga sebaliknya.

Benih-benih muda yang sering menggunakan label “hijrah” semakin tertarik mempelajari konsep khilafah yang diusung HTI waktu itu. Jiwa-jiwa jihad juga mulai menular dari kelompok satu ke kelompok lain. Kesan memojokkan NU semakin bertambah masanya dari berbagai kalangan yang sebelumnya tidak mengetahui apa itu HTI dan bagaimana penerapan konsep khilafah di Indonesia. Opini dan sanggahan dari ulama-ulama NU tidak dihiraukan, mereka semua menutup mata dan telinga untuk senantiasa mendukung, Khilafah!

Akhir ini sangat menarik melihat perdebatan antara Prof. Nadirsyah Hosen dan Yuana Ryan Tresna – bahas khilafah. Sebelumnya saya pernah membaca buku karangan gus Nadir dua versi – Khilafah No, Islam Yes! Begitupun saya juga membaca argumen-argumen dari pak Yuana melalui blog pribadi miliknya. Kadang juga merasa tersenyum sendiri ketika melihat fanatiknya para follower akun kedua tokoh ini, yang kebetulan aktif di media sosial. “Ah, barangkali mereka belum sempat memahami segala pemikiran dan maksud dari kedua tokoh ini. Asal komentar dan memakii.”

Perdebatan tampaknya akan tetap berlanjut sampai entah kapan. Selain mereka kekeh dengan ideologi masing-masing, juga karena faktor basis yang dianggap sudah besar dan siap bergerak. Mati pun rela. Mungkin karena saya hanya membaca dan mencoba memahami perbedaan pandangan antara yang pro-khilafah dan yang anti-khilafah, saya tidak akan ikut mencampuri dan memberikan argumen yang ndakik-ndakik mengenai khilafah.

Baca Juga: Dari Frustasi Menjadi Ideologi

Mendukung Khilafah

Untuk bahas khilafah, perlu diketahui, sudah sejak lama saya mendukung adanya khilafah. Bahkan juga sering saya tulis di berbagai media sosial dan blog. Saya tidak begitu mengerti tentang nasab, sanad, perawi, dan dalil soheh ataupun dhaif mengenai khilafah. Tapi saya yakin tentang khilafah tersebut. Perbedaannya adalah saya sudah meyakini khilafah sejak dulu. Bukan sekarang atau yang akan datang. Ketika manusia berbuat baik terhadap sesama, saling mencintai, menghargai, dan bisa beribadah dengan tenang kepada Allah, itu sudah bentuk konsep khilafah.

Jadi yang saya kurang setuju adalah klaim khilafah itu hanya untuk HTI. Bagi saya, NU juga punya konsep khilafah sendiri. Konsep ini yang sudah dari dulu NU lakukan, yakni tentang prinsip dasar yang menjadi karakter NU (Tawassuth, Tawazun, I’tidal, dan Tasamuh). Kalau khilafah ditarik ke dalam sistem kepemerintahan atau kerajaan, ini yang saya kurang setuju. Tapi sekali lagi saya tidak mengetahui konsep siapa yang dianggap benar oleh Allah mengenai khilafah ini. Yang jelas sebagai insan yang ingin selalu bercinta kasih kepada sesama, semestinya kita senantiasa berdoa untuk kedamaian di alam semesta.

Jika pandangan kawanku yang sependapat dengan HTI, bahwa meyakini akan datangnya khilafah di akhir zaman. Ketahuilah bahwa saya masih ingin hidup beberapa puluh tahun lagi di dunia. Kami jangan diburu-buru untuk segera kiamat dengan adanya khilafah yang kalian yakini. Masih banyak hal yang ingin saya citakan untuk kemaslahatan umat. Bukan mempercepat kiamat dengan kita memaksa menerapkan konsep khilafah. Kalau mbah Nun (salah satu tokoh yang diidolai mas Felix Siaw) bilang, “Lha ini masih hari ketiga menuju hari keempat, tunggu sampai hari ke enam untuk menyambut Imam Mahdi dan Nabi Isa As. turun ke bumi (khilafah).” Begitu kira-kira saat menjelaskan tafsir Surat At-Tin di salah satu kegiatan sinau bareng bersama Cak Nun dan Gamelan Kiai Kanjeng.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: HTIkhilafah