Categories: kolase

Atas Dasar Ketiadaan

Share

“Bagaimana aku ini?!”

Sesuatu yang mewujud itu pasti karena sesuatu lainnya. Seperti halnya manusia yang diadakan karena tanah, malaikat dari cahaya, dan setan yang katanya dari api. Tidak mungkin tiba-tiba ada! “Apa logikaku yang sudah tidak mampu menafsiri?!”

Semesta seakan bicara tentang konsep yang satu itu. Perilaku dan segala keputusan makhluk di sekitar. Membicarakan penemuan yang padahal sudah diadakan sebelumnya. Manusia tidak akan mungkin bisa lepas dari satu kesatuan. Sejauhnya mereka memilih jalan, menutup jalan, sampai menghapus jalan. Mereka tetap akan tiba pada satu tujuan.

“Lantas apa fungsi akal, Namines?”

“Kenikmatan sementara yang semestinya tidak digunakan untuk mengagungkan diri. Selalu menyembah bahwa hidup bukanlah untuk apa dan kepada siapa. Kita hanya limpahan dari melubernya limpahan zat yang maha Agung.”

Hanya itu! Awal segala dari permulaan. Kemudian mengkaryakan nur yang sejati. Alasan akan kehadiran semesta raya, manusia fana dan nyata, dan perilaku yang baik dan berpura-pura.

Jika bertanya tentang keabadian, maka manusia hanyalah wujud dasar kecintaan kepada nur yang disebutnya manusia sejati. Sebagai pemimpin dan pembawa ilham dari Ilahi. Tidak ada keraguan dan kesombongan tentang pribadi yang gagah dan mulia. Karena sejatinya hanya lantaran balas budi kecintaan.

Namines meraba tembok sekeliling kamar. Memijatnya satu persatu. Temannya turut mengikuti dengan wajah keheranan. “Berbagai macam zat, namun satu.”

Baca Juga : Mengalasi Kebaikan

Semakin larut mereka melakukan aktivitas layaknya Majnun mendambakan Laila. Diam sejenak merenungi sampai fajar menyambut derita kecemasan dalam hidup masing-masing.

Tidak mungkin bisa di antara kita menyembah selain-Nya. Melepaskan diri saja begitu susah. Hanya kadang retorika memaksa untuk terjadi perbedaan, perselisihan. Penimbang tentang rasa dan karsa jiwa manusia yang diberikan percik keputusan akan pilihan sebelum mati.

“Aku adalah ketiadaan, jika menganggap aku ada, berarti aku tidak ada. Aku tidak akan pernah ada, yang ada adalah zat yang maha ada, semua adalah ketiadaan, karena yang ada adalah konsep ketiadaan, tidak mungkin ada kalau sebelumnya kita tidak tahu ada, jangan mengada-adakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.”

“Namines, kita masih hidup. Kita belum mati”

“Kesadaranmu akan hidup adalah kematian. Kehidupan sejati adalah setelah kita hidup. Mati hanyalah istilah untuk menakuti, karena selamanya kita akan hidup. Kita tidak bisa lari dari apa yang telah diperbuat.”

Keduanya merebah, menatap langit-langit rumah. Tanganya bergemetar, mata nanar, dan mulut bergetar. “Aku kira isi, ternyata kosong. Semula kosong, menjadi isi”

Suara klakson dari luar kamar begitu kerasnya. Teriakan dari kerumunan saling menyalahkan. Beberapa kali terdengar suara sirine dan senapan. Mereka memperbutkan kebenaran, keadaan.

Pukul 01.00. Namines memejamkan mata perlahan, menghirup udara yang sempat ditemukan dari sisi-sisi ruangan. Tubuhnya seakan melayang. Dipaksa melihat sejuta kenikmatan akan hadirnya ia ke dunia. Masuk menuju lorong untuk memandangi fakir miskin di sekitarnya, pengemis yang makan nasi bekas, pemulung yang sedekah ke masjid, dan orang gila yang selalu tertawa bahagia.

Subuh, keduanya terbangun. Kembali menimang segala hal yang dirasa atas jerih payahnya. Kekayaan, pangkat, jabatan, dan lain sebagainya bukan didapat karena usahanya. Karena Namines menyadari akan ketiadaanya.

“Jika bukan karena sang maha ada, aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena aku adalah ketiadaan. Hanya akan ada jika aku menyadari adanya sang maha ada”

“Atas dasar ketiadaan aku ada, keyakinan akan keadaan yang membuatku tidak ada”, tukas teman Namines yang sedari tadi gusar dengan fatwa-fatwa Namines.

Tuhan selalu jitu mengadakan sesuatu, tak perlu risau. Tidak perlu jauh-jauh untuk memahami konsep ketuhanan. Segala hal yang didengar, dilihat, dan dirasakan adalah kehadiran Tuhan. Termasuk segala cipta budi, imajinasi, prasangka, dan intusi. Melebur menjadi ketiadaan.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU