Categories: opiniSimponi

Arogansi Berkeyakinan

Share

Kehidupan – hidup – manusia akan selalu dialasi dengan sebuah keyakinan. Kemudian bercabang menjadi beberapa kepercayaan berdasarkan pengalaman masing-masing individu. Rangkaian perjalanan menuju fase pengambilan keputusan adalah hak setiap manusia yang dimaksudkan untuk kebenaran berdasarkan persepsinya.

Keyakinan adalah menyandarkan sebuah persepsi kebenaran yang belum sempat dialami oleh seseorang. Bentuknya bisa berbagai macam konsep; pandangan politik, agama, pasangan hidup, hingga kesediaan membaca artikel ini. Tujuan jangka pendek dan atau panjangnya adalah untuk menggapai sebuah harapan (mimpi) atas keyakinan yang dibangun.

Ada bentuk lain dari konsep keyakinan; yakni: kepercayaan. Suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis benar. Perbedaannya adalah ketika seseorang sudah mempercayai sesuatu, berarti ada pengalaman sebelumnya yang membuat kepercayaan itu lahir.

Baik keyakinan maupun kepercayaan sama-sama mempunyai risiko kesalahan. Meskipun risiko kesalahan pada kepercayaan lebih kecil. Namun pada prinsipnya setiap manusia harus memegang keyakinan dan kepercayaannya masing-masing. Soal kebenaran absolut adalah sebuah konsesus dan hak prerogratif Tuhan: berdasarkan pengetahuan agama.

Peradaban Tuhan

Dalam beberapa kasus belakangan, tepatnya sejak marak informasi digital merambah ke berbagai latar belakang masyarakat. Menembus batas-batas kebudayaan, realitas hukum, dan logika kebenaran yang sudah mendarah-daging dalam masyarakat. Riuh dengan berbagai argumen dan sikap arogansi untuk membenarkan pendapatnya. Lebih lanjut, difasilitasi oleh media yang membuka tabir cakrawala pengetahuan – baik fakta ataupun hoax.

Karakter ke-indonesia-an yang dulu dipamerkan dan dikenal dunia sudah mulai memudar menjadi pribadi dunia barat yang keras dan kurang begitu mengenal nilai simpati dan empati. Para begawan juga sudah tidak begitu diberikan hormat. Adab dan akhlak menjelma menjadi umpatan untuk mencari pembenaran diri.

Mereka yang berbaju partai, kelompok masyarakat, atau agama sekalipun tidak menjamin dirinya menjadi hamba dihadapan Zat yang Maha Benar. Seolah hak Tuhan diambil alih untuk memuaskan nafsu tampil sebagai pemenang. Perang pemikiran, argumentasi pengetahuan, debat tentang keyakinan yang seharusnya dipunyai oleh semua orang.

Dalam Islam, kita diingatkan kembali pada jaman jahiliyah. Ketika Rasulullah menghancurkan Latta dan Uzza sampai ribuan patung untuk menauhidkan umat. Sedangkan saat ini -entah disadari atau tidak- kita seolah menjadi patung-patung itu.

Menganggap bahwa segala bentuk keyakinannya adalah sumber kebanaran. Sehingga ada perasaan sombong dan berhak untuk menyalahkan keyakinan orang lain. Sedangakan setiap agama, setiap kelompok, bahkan setiap individu pasti mempunyai keyakinan masing-masing dalam melihat sebuah fenomena. Hal itu didasarkan atas pengetahuan dan pengalaman setiap individu.

Peradaban Tuhan sudah mulai memunculkan eksistensinya. Secara halus dengan bertopeng kealiman, kebaikan, kesalehan, dan kesahajaan. Kemudian nafsu yang merasuk dalam pikiran tentang sebuah keyakinan membimbing manusia untuk berlaku dan bertindak manjadi Tuhan.

Dalam ketidaksadaran ber-habluminallah, kita dilalaikan untuk ber-habluminannas. Mengabaikan teman, saudara, sanak keluarga, demi ambisi meraih nafsu kebenaran masing-masing. Menjelma Tuhan dalam sebuah hutan belantara dengan konsep hukum rimba – siapa yang kuat dia yang akan menang.

Kuat dalam mempertahankan pendapat, kuat dalam berdebat, dan kuat dalam menghadapi setiap intrik untuk menjatuhkan lawan. Kekuasaan sudah diambil alih untuk kepentingan pribadi. “Aku benar dan mereka salah. Aku menang dan mereka kalah.”

Baca Juga: Peran Akal dalam Islam Menurut Harits Al Muhasibi

Pendidikan Arogansi

Jika diturut ke belakang, karakter saat ini adalah karena desain pendidikan yang menuntun kita untuk bersikap “bodo amat” terhadap yang lain. Siswa diberikan pujian sedemikian rupa jika mendapatkan hasil yang memuaskan di setiap kelas. Sehingga siswa berlomba untuk saling mengalahkan satu sama lain, yang tujuannya untuk bisa dipuji di hadapan yang lain. Syukur dapat hadiah atas prestasi yang diraih.

Mereka yang merasa tertinggal dan iri akan kesuksesan sebayanya, melakukan segala bentuk cara untuk mengalahkan balik. Ikut bimbel, lebih rajin dan disiplin, hingga mencontek dan mengancam agar diberikan jalan mendapatkan nilai yang sesuai diharapkan.

Mata pelajaran yang dianggap mubadzir seperti pendidikan kewarganegaraan, tata boga, bimbingan konsesling, malah yang seharusnya kembali digaungkan. Bahkan sekalas pelajaran agama hanya menjadi penilaian tekstual yang pemberi nilai (guru) tidak mengerti aplikasi dari nilai-nilai keagamaan muridnya. Mereka mendapat nilai bagus karena lancar menghafal bacaan doa yang padahal ketika di rumah jarang bersembahyang. Sebaliknya, yang setiap hari pergi ke tempat ibadah bisa mendapatkan nilai jelak hanya karena tidak bisa menghafal sesaui durasi waktu yang ditentukan pengajar.

Siswa secara tidak sadar dicekoki untuk selalu merasa paling benar dan menang. Entah bagaimana caranya, asalkan statistik penilaian bisa menanjak, aspek lainnya adalah sunah. Saat tumbuh dewasa dengan berbagai hal sudah dilalui, sikap otoriter membenarkan pendapat selalu melakat dalam dirinya. Bukan lagi nilai-nilai rapot, tapi kemenangan secara mutlak agar selalu dianggap berkuasa dan dihargai oleh banyak orang.

Arogansi berkeyakinan sudah menjadi wahana saling “membunuh” satu sama lain. Sedangkan bagi mereka yang berkeyakinan cukup hanya tertawa di depan laptop menyimak debat kusir yang tidak akan pernah berkesudahan. Berkeyakinan jangan sampai membuat lupa berkemanusiaan.

Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU