Categories: opiniSimponi

Apa Mungkin?

Share

Setahuku orang Indonesia itu ramah. Murah senyum dan saling sapa. Diskusi renyah di angkringan sambil tertawa bersama. Saling tolong menolong dan gampang berempati terhadap sesama.

Setahuku orang Indonesia itu santun. Berjalan menunduk ketika lewat di depan orang yang lebih tua. Cium tangan kepada orang tua dan guru. Bilang terimakasih jika merasa ditolong atau dibantu suatu hal.

Setahuku orang Indonesia itu pemalu. Sungkan dipuji. Tidak enak hati. Merasa hina jika melakukan kesalahan dan menyesal telah melakukan suatu kesalahan kepada sesama. Prinsipnya bahwa semua adalah saudara.

Setahuku orang Indonesia itu baik hati. Mengistimewakan tamu jika berkunjung ke rumah saudara atau tetangga. Gotong royong membangun rumah masyarakat sekitar. Percaya kepada siapapun ketika menghutang dan meminjam sesuatu dari kita.

Atau mungkin mainku yang kurang jauh?

Sampai banyak yang cerita dari berbagai rekan tentang beringasnya orang Indonesia. Penuh umpatan, cacian, dan sumpah serapah. Berbagai kata kotor penuh kebencian dan hasutan kepada sesama, bahkan sekelas ulama. Mereka yang siap perang dan mati. Rela dipenjara dan disiksa. Bangga bertarung dan bertempur di medan perang.

Atau semua hanya berita palsu?

Ketika para sedardu saling menantang. Media sosial yang fungsinya untuk komunikasi dan interaksi menjadi media penuh caci maki dan ajakan untuk siap mati.

Tidak! Orang Indonesia pasti selalu menjunjung toleransi. Sesamanya. Tidak mungkin ada orang Indonesia yang menjadi teroris dan tega membunuh saudaranya sendiri. Mangacungkan pedang dan siap melibas sesama orang Indonesia sendiri. Semua yang terjadi akhir ini pasti hanyalah sebuah mimpi. Atau hanya sebuah sinetron untuk meningkatkan rating media sosial. Aku masih yakin bahwa orang Indonesia itu orang baik yang selalu memegang prinsip saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Baca Juga: Bhinneka Tinggal Luka

Atau mungkin?

Ada beberapa makhluk alien yang datang ke Indonesia untuk mengobrak-abrik tatanan bermasyarakat yang dulu indah dan penuh cinta. Agen yang masuk pelan-pelan ke dalam masyarakat untuk mengubah budaya luhur saling asah, saling asih, dan saling asuh. Menyusup di sela-sela media sosial dengan narasi memojokan kelompok satu dengan yang lain. Agen yang paham karakter dan psikologi masyarakat Indonesia yang dianggapnya mudah dihasut. Tidak kan? Orang Indonesia tidak mudah diadu-domba bukan?

Kukira bukan orang Indonesia jika gemar membuat berita palsu. Apalagi tahu itu fitnah tapi malah bangga. Bukan, pasti mereka bukan orang Indonesia. Selama perjalanan hidupku, yang kutemui orang Indonesia itu penuh cinta. Jika ada kebencian, provokasi, dan ajakan untuk melakukan hal-hal konyol – pasti dia bukan orang Indonesia.

Apa mungkin ini bagian dari skenario Tuhan?

Kalau dalam film atau drama, ketika mendekati ending atau akhir cerita, memang biasanya dibuat konflik yang meruncing. Klimaks. Sehingga alur cerita bisa menarik untuk dinikmati. Jadi banyak tokoh protagonis muncul untuk menjadi terkenal dan dipuji atau dihujat sama tokoh-tokoh figuran seperti kita.

Kalau boleh berangan-angan. Mengingat kembali sebuah kenangan. Betapa ingin aku kembali ke masa tidak ada handphone dan media sosial. Setiap pagi bermain bareng tetangga ke sana kemari. Malamnya bercengkrama bersama keluarga dengan kisah-kisah pujian kepada yang lain. Tidak ada kebencian yang membabi buta, apalagi petantang-petenteng berlagak jagoan untuk membuktikan siapa yang menang. Dulu yang kepada sesamanya penuh cinta dan kasih seperti pesan agama, bukan benci dan caci seperti manusia tidak beragama.

Sayangnya, menyesal selalu tiba di belakang. Dimana sekarang katanya sudah tidak sedamai beberapa puluh tahun yang lalu. Satu persatu orang Indonesia giat mengkonsumsi kebencian. Malah kadang bisa sakau jika dalam beberapa periode tertentu tidak ada sesuatu yang dibencinya.

Apa mungkin?

Seperti yang sudah diramalkan para tokoh intelektual itu, bahwa sejatinya penjajahan di era-modern bukan dengan perang adu senjata. Melainkan propaganda dan pecah belah dengan isu yang tidak akan pernah ada habisnya. Kebetulan memang umpannya sudah bisa dianalisa, bahwa kita lebih senang melakukan dan meluapkan kebencian daripada sikap menghargai dan mencintai kepada sesama.

Semoga semuanya hanya sebatas kemungkinan, karena aku masih meyakini bahwa orang Indonesia itu adalah manusia super baik yang tercipta di muka bumi. Mereka tidak akan mungkin melakukan hal konyol mengajak bentrok antar sesama, apalagi dengan dalih agama. Dan aku akan selalu bersyukur telah menjadi bagian orang Indonesia yang tidak sudi untuk diadu domba dan dipecah belah.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU