Categories: AransemenKajian

Amatir Memahami Hadis

Share

Judul ini bukan untuk menuduh atau menghakimi para penanya, “hadisnya mana?”. Melainkan sebuah pernyataan pada diri penulis bahwasanya begitu amatir dalam memahami hadis. Keamatiran pemahaman hadis ini akan coba saya tuliskan untuk memberikan gambaran betapa luar biasanya muhaddits mufasir di dunia.

Perdebatan yang muncul belakangan memang mayoritas didominasi oleh perbedaan pemahaman mengenai tafsir hadis. Hal tersebut patut dimaklumi karena tersebarnya sembilan kitab primer (alkutub al tis’ah) serta banyak lagi kitab sekunder. Demikian yang membuat ulama satu dengan yang lain sulit melacak kedudukan serta konteks turunya hadis tersebut. Lebih sulit lagi bagi kalangan tafsir hadis di Indonesia, karena dari sembilan kitab utama hadis tersebut belum seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Baca Juga : Islam Bukan Arab, Bro!

Berikut sembilan kitab hadis utama tersebut:
  1. Abu Dawud, Sulaiman, “Sunan Abi Dawud”, Al-Maktabah Al-Ashriyah, Bierut. 1952.
  2. Bukhari, Abu Abdallah Muhammad bin Isma’il, “Shahih Al-Bukhari”, Dar Al-Qalam, Beirut. 1987.
  3. Darimi, Abu Muhammad, “Sunan Al-Darimi”, Dar Al-kitab Al-‘Arabi. 1987.
  4. Hambal, Ahmad bin, “Musnad Al-Imam Ahmad”, Al Maktabah Al-Isalami, n.d
  5. Ibnu Majah, “Sunan Ibnu Majah”, Dar Ihya Al-Turas Al-Arabi. 1975.
  6. Malik, Imam, “Al-Muwattha”, Al-Syirkah Al-Alamiyah. 1993.
  7. Muslim, “Shahih Muslim”, Dar Ihya Al-Turas Al-Arabi. 1975.
  8. Nasa’I, “Al-Sunan Al-Nasa’i”, Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyah. 1986.
  9. Tirmidzi, Abu Isa Muhammad At, “Sunan Al-Tirmidzi”, Dar Al-Fikr, Beirut. 1980.

Jika ada teks hadis yang dirasa sulit untuk dipahami, hendaknya membuka kitab syarah hadis tersebut. Dari sembilan kitab tersebut, masing-masing mempunyai kitab syarh (penjelas) yang ditulis oleh ulama-ulama yang jelas sanad dan perawinya. Misalkan kitab Fath Al-Bari Lil Ibn Hajar yang dianggap sebagai kitab utama terhadap Shahih Bukhari. Ada juga kitab Umdah Al Qari’ dan kitab Imam Nawawi. Begitu halnya dengan 8 kitab utama lainnya yang memiliki syarah masing-masing.

Selain memliki syarah per kitab hadis, ada juga yang mengarang kitab berdasarkan topik tertentu yang merupakan rangkuman dari 9 kitab utama. Contohnya adalah kitab Subul Al-Salam, Nail-Awthar, dan lain sebagainya.

Hadis Sahih?

Jika kita mau belajar kitab hadis lebih banyak, tentu tidak ada silang pendapat dan perbedabatan yang menjadikan perpecahan sesame umat muslim. Sayangnya mereka yang paham hadis dengan sikap toleran malah justru dianggap liberal dan sesat. Padahal perselisihan soal hadis sudah terjadi sejak jaman salafush shaleh. Ada beberapa hadis yang dinyatakan sahih oleh satu ulama, tapi dinyatakan dhaif oleh ulama lain. Sedangkan mereka sama-sama berpegang pada hadis sahih. Kok bisa? Nanti kapan-kapan kita bahas lagi.

Dalam buku Gus Nadir menjelaskan bahwa umat Islam saat ini cenderung kaku, sehingga tidak mau memahami perbedaan kriteria kesahihan hadis. Mereka menganggap setiap ibadah yang dijalankan berdasarkan hadis dhaif dihukumi bidah. Sedangkan kita belum mempelajari beberapa kitab hadis dan perbedaan tafsir di antara ulama tersebut. Akhirnya bidah bukan lagi dimaknai sebagai perbuatan yang menyimpang dari sunah nabi, melainkan perbuatan yang dianggap menyimpang dari sunah nabi. Secara tidak sadar, anggapan, asumsi,dan tuduhan ini yang memecah ukhuwah islamiyah.

Semua ulama sepakat bahwa salah satu unsur kesahihan hadis harus diriwayatkan oleh perawi yang adil. Sedangkan penilaian terhadap perawi yang adil itu berbeda padangan di antara para ulama. Unsur lainnya adalah bersambungnya sanad atau perawi hadis.

Menyikapi Perbedaan

Kemudian ada yang mengatakan jika perbedaan pendapat mustahil muncul jika kita kembali kepada Alquran dan Hadis. Sedangkan yang terjadi jika kita berpegang teguh pada Alquran dan Hadis, perbedaan itu akan muncul karena itu adalah pintu untuk terjadinya perbedaan pendapat. Seharusnya umat Islam bisa menjadi bijak jika milihat fakta dan belajar tentang agama yang begitu kompleks untuk dipelajari.

Baca Juga : Tidak Tahu Tapi Ia Tidak Tahu Bahwa Ia Tidak Tahu

Seorang ulama atau kelompok atau madzab tentu memiliki cara pandang tersendiri menghukumi sebuah amal ibadah berdasarkan rujuan kitab Alquran atau Hadis. Mereka mempunyai dasar berdasarkan pengetahuan yang didapatkan. Walaupun tetap kita akan mengatakan kebenaran hakiki hanya milik Allah Swt. Sehingga keindahan dalam memahami hadis sahih adalah bagaimana kita bisa menerima perbedaan pendapat, bukan dengan cara menyerang amaliyah muslim lain dengan mengatakan hadis dhaif dan menyuruh meninggalkan amalan tersebut. Sedangkan kita belum sepenuhnya belajar tentang sanad, perawi, syarah, dan lain sebagainya.

Banyak sekali perbedaan pendapat mengenai amalan, tata cara beribadah, dan aspek keagamaan yang memiliki perbedaan pendapat di antara para ulama. Jadi sebelum buru-buru mengancam dan membidahkan amalan orang lain, alangkah lebih bijak jika kita luangkan waktu sejenak untuk lebih serius belajar mengenai hadis. Adapun jika tetep masih ngotot menganggap salah amalan seseorang, hendaklah kita berprasangka baik, bahwasanya setiap amal ibadah seseorang tetap berpegang teguh pada Alquran dan Hadis, namun ada perbedaan memahami pendapat sebuah hadis berdasarkan perawi dan syarah masing-masing.

Referensi dari buku Nadirsyah Hosen,”Saring sebelum Sharing”


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU