Categories: SimponiWarganet

Ajaran Sunah Rasul Menurut Sunan Kalijaga

Share

Sunan Kalijaga aslinya bernama Raden Syahid (1460-1513 M), Raden Syahid sendiri merupakan putra seorang Adipati (Raja) di Tuban (Jawa Timur). Ketika Raden Syahid lahir di bumi Tuban, keadaan Majapahit mulai surut. Beban upeti kadipaten semakin membesar sehingga masa remaja Raden Syahid dipenuhi dengan keprihatinan.

Kemudian dia bertanya pada ayahnya, “Mengapa rakyat kadipaten Tuban yang sudah hidup sengsara dibuat lebih menderita, Ramanda”.

Sang ayah menjawab, “Maaf anakku, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku hanyalah Raja Bawahan”.

Pada saat itu kadipaten Tuban dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Raden Syahid akhirnya memilih menjadi pencuri yang hasil curiannya dibagikan kepada orang miskin (maling cluring).

Mula-mula dia membongkar gudang kadipaten untuk mengambil bahan makanan dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya secara diam-diam. Penerima bahan makanan itu tidak pernah tahu siapa yang memberi bahan makanan itu. Namun, lewat intaian para penjaga keamanan kadipaten, akhirnya Raden Syahid tertangkap basah dan dibawah kepada Adipati Tumenggung Wilaktika (ayahnya sendiri). Sehingga keluarga adipati merasa malu karena perbuatan putranya kemudian Raden Syahid diusir dari kadipaten.

Baca Juga: Sunan Kalijaga

Pengusiran itu tidak membuat jera Raden Syahid, dia malah merampok dan membegal orang-orang kaya di kadipaten Tuban dan hasilnya dibagikan kepada orang miskin. Kemudian dia membegal Sunan Bonang dengan keahlian pencak silatnya dia berhasil mengambil tongkat Sunan Bonang dan mengatakan tujuannya mencuri yaitu hasilnya dibagikan bagi orang-orang miskin.

Pertemuannya dengan Sunan Bonang membuat Raden Syahid tercerahkan hidupnya, ia menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya itu meski tampak mulia, tapi tetap jalan yang salah. Akhirnya dia menyatakan diri untuk berguru kepada sunan bonang. Dengan demikian, Sunan Bonang merupakan guru spiritual bagi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memahami aspek kehidupan nyata bahwa hidup tidak semata-mata berurusan tentang impian hari nanti. Fokus Sunan Kalijaga adalah pada kehidupan hari ini yang diimplikasikan pada kehidupan akhirat nanti, salah satu esensi dari pribadinya yaitu mengikuti cara Nabi.

Mempraktekkan sunnah Rasul bukanlah meniru tampilan fisik Nabi Muhammad. Menjalankan sunnah Rasul, bukanlah dengan mengikuti budaya Nabi Muhammad yang berasal dari Arab. Misalnya harus makan dengan jari-jari tanpa sendok, meniru pakaian Rasul, berbuka dengan beberapa butir kurma, dan dengan membacakan ayat-ayat Alquran atau hadis yang masih berbahasa Arab. Menjalankan sunah Rasul bukan hanya demikian, melainkan menimba keteladanan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, mengikuti pola pikir dan cara Nabi menghadapi masalah.

Pertama, merangkul semua pihak yang berbeda pandangan, keyakinan dan agama. Merangkul etnis dan suku-suku yang berbeda-beda. Mereka semua diajak untuk setia terhadap kehidupan damai bersama, hidup yang saling menebarkan salam, saling menciptakan perdamaian, jangan ada yang saling menikung dan mengkhianati. Kita pada hakikatnya adalah umat yang satu. Sunan kalijaga mengajak seluruh orang Nusantara, khususnya Jawa untuk hidup rukun dengan menawarkan agama Islam tanpa memaksa untuk masuk kepada agama Islam.

Kedua, mengadopsi tata cara ibadah yang sudah ada dan dilakukan perbaikan. Banyak orang yang menganggap bahwa Nabi Muhammad membawa agama Islam dengan berbagai aturan ibadah yang baru. Masyarakat akan kaget bila sebuah agama datang dengan segala tata cara ibadah yang baru. Jika demikian, datangnya agama Islam akan disibukkan dengan pengajaran tata cara beribadah karena serba baru, dan orang luar tentu belum tahu cara-cara mempraktikkannya.

Seperti salat, sebelum Nabi mengajarkan salat bagi pengikutnya orang-orang Arab sudah mengenal ibadah shalat. Seperti orang Kristen yang tinggal di Arab malah melakukan salat yang salatnya itu mirip dengan salatnya orang Islam. Oleh karena itu mereka tidak kaget apabila mendengar tentang seruan salat. Sunan Kalijaga mengajarkan salat dengan menyesuaikan kemampuan masyarakat dan pengikutnya hingga sampai menjadi salat 5 waktu.

Ketiga, membiarkan sesuatu yang positif dan bermanfaat dalam kehidupan. Apabila sesuatu itu positif dan bermanfaat, Nabi malah melestarikannya. Seperti pada saat orang-orang Yahudi menggotong jenazah dan beliau sedang duduk bersama para sahabat di pinggir jalan. Dengan serta merta Nabi berdiri dan memberikan hormat, sampai para sahabat heran waktu itu, kemudian Nabi menjelaskan pada prinsipnya bukan menghormati jenazah, melainkan menghormati orang-orang yang hidup.

Lihatlah kebijaksanaan Sunan Kalijaga, dakwah Islam dalam grebeg mulud (hari lahirnya Nabi Muhammad) diiringi dengan bunyi gamelan dan tarian. Apresiasi seni begitu tinggi, bahkan ketika Sunan Kalijaga mencari putranya yang meninggalkan rumah, dicarinya dengan pementasan tari topeng. Sunan Kalijaga sendiri yang mementaskannya.


Muhammad Ihya’ Ulumuddin – Akidah dan Filsafat Islam UINSA