Categories: biografiFolkor

Abu Hasan Al Asy’ari: Guru Ahlussunnah Wal Jamaah

Share

Salah satu hal yang membedakan antara Ahlu Sunnah waljamaah dengan aliran yang lain adalah dalam ranah akidah. Dalam hal akidah, imam dari ahlus sunnah adalah Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi. Beliau merupakan dua orang yang berjauhan namun memiliki pandangan dan pembahasan yang sama terkait akidah. Dalam buku Khazanah Aswaja  disebutkan perbedaan dari beliau berdua hanya pada 13 masalah. Itupun adalah bab yang cabang atau furu, bukan merupakan suatu hal pokok.

Abu al-Hasan ibn Ismail ibn Abu Hasyar Ishaq ibn Salim ibn Ismail ibn Abdillah ibn Musa ibn Bilal ibn Abi Burdah Amir ibn Abu Musa al Asy’ari. Lebih dikenal sebagai Abu Hasan Al Asy’ari lahir di Basrah, tahun 260H/875M dan meninggal pada tahun 324H/935M di kota Baghdad Iraq. Beliau lalu belajar membaca, menulis, dan menghafal al quran dalam asuhan orang tuanya yang kebetulan meninggal saat beliau masih kecil. Setelah itu, beliau belajar kepada ulama hadis, fikih, dan bahasa antara lain kepada al Saji, Abu Khalifah al Jumhi, Sahal ibn Nuh, Muhammad bin Yakub, ‘Abd ar Rahman ibn Khalif, dan sebagainya. Beliau juga belajar fikih Syafi’I kepada Abu Ishaq al Maruzi seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah.

Baca Juga : Imam Ghazali – Ihya Ulumudin

Abu Hasan Al Asy’ari dan Mu’tazilah

Sampai umur 40 tahun beliau belajar ilmu kalam dari seorang imam kelompok Mu’tazilah bernama Abu Ali al Jubai bahkan ada juga yang mengatakan beliau belajar di Mu’tazilah selama 40 tahun. Dengan kemahiran dan kepintarannya, beliau sering mewakili gurunya dalam berdiskusi sehingga tidak heran jikalau beliau adalah seorang imam besar Mu’tazilah. Namun pada akhirnya, beliau malah memutuskan untuk keluar dari aliran ini dan kelak membentuk mazhab baru bernama Asy’ariyah yang dikenal sebagai paham akidah ahlu sunnah waljamaah.

Para pengkaji berbeda persepsi bagaimana asal mula beliau berpindah aliran. Ibnu Asakir menceritakan bahwa awal mula kepindahannya dari aliran Mu’tazilah adalah ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada sang guru namun tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Lantas beliau bermimpi bertemu dengan Nabi yang menyuruh beliau untuk keluar dari aliran Mu’tazilah. Versi lain dari cerita ini adalah beliau bermimpi bertemu Nbi di hari kesepuluh bulan ramadhan, pertengahannya, dan juga di malam sepuluh terakhir. Baginda mengatakan, “Hai, Ali bantulah menegakkan sunnah ku karena itulah kebenaran yang hakiki”.

Al Subki dan Ibnu Khalkan menuki bahwa ketika Al Asy’ari hendak menajwab pemikiran Mu’tazilah yang mulai membuatnya ragu. Beliau mengurung diri di rumah selama 15 hari dan mulai merenun serta membandingkan dalil-dalil antara aliran Mu’tazilah dan Sunni. Setelah melewati masa perbandingan dan renungan, akhirnya beliau keluar dari rumah. Bertemu dengan masyarakat dan meminta mereka untuk berkumpul.

Selanjutnya, pada hari Jumat di kota Bashrah, beliau naik ke atas mimbar dan berkata:

“Barang siapa yang telah mengenalku, maka sebenarnya dia mengenalku. Dan barang siapa belum mengenalku, maka aku akan memperkenalkan diri. Saya adalah fulan bin fulan. Saya pernah mengatakan bahwa alquran adalah makhluk, Allah tidak terlihat oleh indra penglihatan pada hari kiamat kelak, dan bahwa perbuatan saya yang tidak baik, saya sendirilah yang melakukannya. Kini saya bertobat dari pendapat seperti itu serta siaps edia untuk menolak Mu’tazilah dan mengungkap kelemahan mereka. Selama beberapa hari ini saya telah menghilang dari hadapan anda semua karena sedang berpikir. Menurut pendapat saya, dalil yang dipakai oleh dua kelompok ini seimbang. Lantas saya meminta petunjuk dari Allah, maka Allah memberi petunjuk kepada saya untuk meyakini apa yang tertera dalam kitab-kitab saya. Saya akan melepasakan apa yang pernah saya percayai seperti saya menanggalkan baju ini (Sambil beliau melepaskan baju yang dikenakannya).”

Baca Juga : Imam Bukhari – Amirul Mukminin fil Hadits

Memang pada saat itu sedang terjadi konflik hebat antara dua ideologi tersebut. Pertama dari kalangan Hanabilah yang merupakan para pengikut pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal atau biasa dikenal sebagai pemikiran sunni dan juga pemikiran Mu’tazilah yang saat itu diikuti oleh Al-Asy’ari.

Pada tahun 827 M, kekhalifahan Abbasiyah menerima Mu’tazilah secara resmi dan diteruskan oleh dua khalifah setelahnya. Pada masa-masa ini mereka yang masih berpegang teguh pada tradisi khususnya Imam Ahmad bin Hanbal disiksa secara habis-habisan. Bahkan mereka yang tidak menerima ajaran definitif dogmatis milik Mu’tazilah dianggap sebagai kafir. Aliran ini mulai menurun pengaruhnya ketika masa kekhalifahan Al-Mutawakkil. Beliau akhirnya membebebaskan para ulama yang dipenjara oleh para khalifah sebelumnya. Dengan demikian mulai bisa muncul kembali pemikiran Hanabilah dan akhirnya pada akhir abad ke-3 Hijriyah muncullah beliau Abu Hasan Al-Asy’ari.


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU