Categories: AransemenKajian

5 Watak Sejati Manusia

Share

Saya akan mencoba merangkum kajian Ust. Fahruddin Faiz tentang watak sejati manusia. Watak yang menjadi potensi untuk dimiliki oleh semua orang. Menurut Meng Zi atau Mencius, manusia dibekali 5 watak sejati. Masing-masing watak akan dimiliki manusia. Ada yang menghidupkannya, ada pula yang menguburnya. Berikut 5 watak sejati manusia yang merupakan watak bawaan :

  1. Ren – Cinta Kasih
  2. Yi – Kebenaran
  3. Li – Kesusilaan
  4. Ti – Kebijaksanaan
  5. Xin – Dapat Dipercaya

Jika tidak mempunyai watak ini, berarti ada yang keliru dalam hidupnya. Karena sejatinya semua orang punya potensi untuk memiliki dan mengembangkan watak itu.

Pertama adalah cinta kasih. Cinta dan kasih sayang itu manusiawi. Sebaliknya, jika manusia diliputi watak kebencian, peperangan, saling menyakiti, itu berarti menabrak kodrat sejati dari manusia itu sendiri. Harusnya manusia itu saling mencintai. Makanya kalau kita sedang melihat fenomena saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi akan terlihat indah. Kenapa? Karena itu hakekat diri manusia.

Mereka saling menebar kasih sayang, saling membantu, saling menolong, menjadikan sebuah keadaan yang indah untuk disaksikan. Karena semua manusia akan merasakan hal yang sama tentang cinta dan kasih sayang.

Kedua, Kebenaran. Kebenaran pun juga indah. Tidak ada orang yang ingin menjadi tidak benar. Kadang-kadang jelas terlihat tidak benar tapi tetap ingin disebut benar. Karena ada dalam kebenaran itu fitrah, watak sejati.

Seringkali kita melihat fenomena bahwa ketika kita salah tapi tetap beralasan agar terlihat benar. Kenapa? Karena orang itu akan nyaman dan tenang kalau berada di dalam kebenaran. Jika jelas keliru, maka kita akan membuat dalih. Kenapa manusia selalu bikin alasan?! Karena kita taku dianggap tidak benar. Jadi fitrah watak sejati orang itu adalah kebenaran.

Ketiga adalah kesusilaan. Merasa tidak nyaman kalau melihat orang tidak sopan, merasa gelisah melihat orang tidak bermoral. Karena kita mempuntai watak sejati susila. Makanya, hakikat orang itu baik. Berakhlak dan bersusila.

Baca Juga: Memanusiakan Manusia

Keempat adalah kebijaksanaan. Manusia mempunyai kecenderungan untuk bijaksana sebagai kelanjutan dari kebenaran. Memutuskan, merancang, mewujudkan kebenaran, kesusilaan, cinta kasih secara pas, baik ruang dan waktunya. Makanya pengertian filsafat itu adalah cinta kebijaksanaan.

Orang selalu mengejar kebijaksanaan, ingin hidupnya pas. Menginginkan keadilan, keputusannya diterima, dan pilihan hidupnya sesuai. Semisal kita melihat ada seorang yang miskin, tapi mereka malah berhura-hura, beli makanan enak, beli barang mewah dan mahal, itu berarti tidak bijaksana. Kita melihatnya menjadi tidak nyaman dan indah. Kenapa?! karena tidak cocok dengan tuntutan jiwa kita yang bijaksana.

Terakhir adalah dapat dipercaya. Sangat mudah dipahami. Pada intinya adalah jika kita melihat ada orang yang dapat dipercaya itu berarti menyenangkan. Watak sejati manusia itu dapat dipercaya.

Jadi mari kita lihat di sekeliling kita hari ini. Apakah sudah ada cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, kebijaksanaan, dan dapat dipercya?! Masih adakah yang memperhatikan dan dikembangkan lima watak sejati manusia tersebut. Jika sudah tidak ada, berarti banyak orang, mungkin termasuk kita sendiri sedang kehilangan watak sejati dalam diri manusia.

Kalau kita sering mendengar tausiyah atau membaca tulisan tentang himbauan atau ajakan untuk memanusiakan manusia. Maka kita harus segera melihat diri sendiri, karena manusia yang manusia itu adalah yang mempunyai lima watak ini.

Cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, bijaksana, dan dapat dipercaya. Itulah manusia yang manusia. Belajar menjadi manusia itu memang sulit, karena kita harus bisa mengidupkan lima watak sejati tadi. Itulah yang membedakan antara manusia dengan yang lainnya. Misalkan hewan bukan tentang cinta kasih, tapi insting. Seperti ketika berkembang biak, perbedaan manusia dengan hewan adalah bentuk cinta kasihnya yang tidak dimilihi oleh hewan.

Kalau manusia ada proses pendekatan, kecenderungan, dan lain sebagainya. Sedangkan hewan tidak butuh macam-macam, tinggal kawin, punya anak, selesai. Sekali lagi, kalau manusia butuh proses, ada cinta kasih yang mewarnai.

Demikian penjelasan ringkas tentang watak sejati manusia, semoga kita senantiasa menjadi manusia yang selalu ingat untuk terus menghidupkan lima watak sejati kita masing-masing.

*Diambil dari ceramah Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag


Muhammad Raiz – Seni tablig Seniman NU